KH. Muhammad Amir adalah Ulama' sentral dan Mustasyar pertama Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Pekalongan yang berasal dari Lumpur, Brebes . Beliau adalah putra KH Idris bin Soleh, salah satu murid Syekh Abu Bakar Syatha' dan juga pendiri PP. Lumpur, Losari, Brebes. Ibunya bernama Ny. Hj. Soimah binti Murtasim (kakak dari KH Sa'id Gedongan). Biografi Ringkas Lahir : 1294 H / 1875 M di Lumpur, Limbangan, Losari, Brebes (sebagian sumber menyebut Desa Mundu, Cirebon). Nama Kecil : Muhammad Amir. Orang Tua : Pasangan KH Idris dan Nyai Soimah. Istri : Nyai Sukaenah binti Sa'id (Gedongan). Ny. Sa'adah binti Amin (Bendakerep). Nyai Zahra binti Mbah Soleh Darat. Nyai Sa'diyah binti Sulaiman (Semarang). Wafat : Selasa, 8 Rabiul Akhir 1357 H / 7 Juni 1938 M. Makam : Kompleks pemakaman di Desa Banyurip, Pekalongan (persis di depan Masjid Jami' Banyurip Ageng). Perjalanan Ilmu dan Dakwah Menimba Ilmu : Belajar dasar agama dari ibundanya, lalu menimba...
| Kesultanan Cirebon (1482 - 1677) | |
|---|---|
| Ibukota | Cirebon |
| Bahasa | Jawa, Sunda, Cirebon |
| Agama | Islam, Hindhu, Buddha, Animisme |
| Bentuk Pemerintahan | Kesultanan |
| Sultan Cirebon | - 1482 - 1568, Sunan Gunung Jati - 1568 - 1570, Fatahillah- 1570 - 1649, Zainul Arifin - 1649 - 1677, Abdul Karim |
| Peristiwa Penting | -1482 M, Kesultanan Cirebon resmi keluar dari Kerajaan Sunda dan menjadi negara independen. - 1 September 1488 M, Sunan Gunung Jati melantik putra Ki gede Luragung (anak angkat Sunan Gunung Jati) yang bernama Pangeran Kuningan menjadi Adipati Kuningan. - 1518 M, Sunan Gunung Jati memerintahkan Janapura untuk membuat sebuah pedukuhan di dekat laut Karawang. (Sekarang berada di sekitar Pisangan - Sedari, Karawang). - 8 Oktober 1526 M, Peresmian Kadipaten Banten. - 22 Juni 1527 M, Gabungan pasukan Cirebon dan Demak berhasil menguasai Sunda Kelapa dibawah pimpinan Fatahillah. - 1528 M, berhasil menaklukkan Galuh. - 1529 M, Integrasi Talaga. - 1530 M, Integrasi Sumedang Larang. - 1530 M, Cirebon berhasil menguasai Lampung dan menempatkannya dibawah kendali Kadipaten Banten[57]. - 1552 M, Sunan Gunung Jati mengangkat Putranya yg bernama Maulana Hasanudin sebagai Sultan Banten I. - 1679 M, Pembagian Kesultanan Cirebon menjadi Kasepuhan dan Kanoman. - 7 Januari 1681 M, Perjanjian Cirebon mengakibatkan Cirebon menjadi bawahan Hindia Belanda. |
| Mata Uang | Dirham dan Dinar |
| Di Dahului Oleh | Di Gantikan Oleh |
| - Kerajaan Sunda | - Kesultanan Banten - Kerajaan Sumedang Larang - Kesultanan Kasepuhan (Bawahan Hindia Belanda) - Kesultanan Kanoman (Bawahan Hindia Belanda) - Kesultanan Mataram - Hindia Belanda |
Daftar Sultan Cirebon :
1. Pangeran Cakrabuana ( 1430 - 1479 )
Pada masa pemerintahannya, Cirebon masih berstatus sebagai bawahan Kerajaan Sunda.
2. Sunan Gunung Jati ( 1479 - 1568 )
Seperti yang tertuang dalam naskah Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Carbon.
Pada tanggal 12 Shafar 887 Hijriah atau tepatnya pada tanggal 2 April 1482 Masehi, akhirnya Syarif Hidayatullah membuat maklumat yang ditujukan kepada prabu Silih Wangi selaku Raja Pakuan Pajajaran bahwa mulai saat itu Cirebon tidak akan lagi mengirimkan upeti.[27][28] Maklumat tersebut kemudian diikuti oleh para pembesar di wilayah Cirebon (bahasa Cirebon: gegeden).
3. Fatahillah ( 1568 - 1570 )
4. Zainul Arifin ( 1570 - 1649 )
5. Abdul Karim ( 1649 - 1677 )
Hubungan Dengan Demak
Untuk memperkuat hubungan dengan kesultanan Demak dilakukan dengan pernikahan putra-putri kedua kesultanan.[29]
- Pangeran Maulana Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana.
- Pangeran Jayakelana dengan Ratu Ayu Pembayun.
- Pangeran Bratakelana dengan Ratu Nyawa (Ratu Ayu Wulan).
- Ratu Ayu dengan Yunus Abdul Kadir (Pangeran Sabrang Lor) menikah pada 1511 yang menjadi Sultan Demak kedua pada 1518.
Bukti - Bukti Peninggalan :
1. Bangunan Keraton Kasepuhan di Cirebon yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana.
2. Bangunan Keraton Kanoman di Cirebon yang didirikan oleh Pangeran Kertawijaya.
3. Bangunan Keraton Kacirebonan.
4. Makam Sunan Gunung Jati.
Rujukan Primer :
Pranala :
Komentar
Posting Komentar